Birrul Walidain

Dirumah Bapak-Ibu, sehabis antar Ibu kontrol berobat karena gerah sepuh, saya lihat kue setoples diatas meja. Bapak memang selalu menyediakan kue itu sebagai camilan untuk Ibu karena Ibu menyukainya. Saya mencobanya,
“Hmm enak yaa, nyuwun nggih Pak? Hihihi ( sambil cari plastik), buat camilan di jalan,” lanjutku masih nyengenges.
Bapak tertawa sambil menyahut, “Kono njupuk o!”
“Satu, dua, tiga....sepuluh nggih Buk?” Tanyaku sambil memandang Ibu yang mendengarkan pembicaraan kami meski kadang tidak mudheng.
Ibuk tersenyum, “kok muk sithik?”
“Waa...Ibuk mengerti rupanya, alhamdulillah, boleh nambah yaa..!” Hahaha...saya ambil lagi..” (maruk, hihihi).
Kue saya taruk di meja, kemudian duduk dekat mereka sambil ambil pisang di atas meja (disediakan untuk makan obat), “nyuwun pisangnya ya Buk?”
Ibuk hanya tertawa, yang ku artikan mengiyakan. :D
Saya lihat Ibuk mengambil kue yang saya masukkan plastik tadi (Ibu sering lupa). Saya becandain,
“Ibuk, niku kue kulo, kok diambil toh!”  Sambil mecucu pura-pura cemberut. “Pak, Ibuk nakal, niku kue kulo dipundhut malih!” wadul, masih mecucu.
“Hahaha,” Bapak gumujeng dan njagur kepala saya.
“Haduh! hahah” teriakku pura-pura kesakitan, sambil ngakak.
Ibuk ikut tersenyum dan bilang, “Woo nggonmu to iki.”

Hehe.... love You so much Pak Buk...!

Mungkin bagi sebagian orang itu hal gak penting, tetapi bagi saya itu sangat spesial. Bercanda dengan kedua Ibu Bapak, membuat mereka tersenyum bahkan tertawa terbahak, sungguh hati berasa bahagia. Bersyukur diberi kesempatan mengerti, bahwa berbuat baik kepada orangtua termasuk hal yang diridhoi Alloh.  

Terlalu banyak hutang budi kita kepada orangtua, yang selama ini melakukan semua hal baik untuk kita, dari saat belum lahir sampai sekarang ini. Semoga Alloh membalasnya dengan keberkahan yang tak terhingga dunia akhirat. Semoga anak-anaknya termasuk anak-anak yang sholih-sholihah sehingga dapat menjadi investasi akhirat bagi mereka kelak. Aamiin

2 komentar untuk "Birrul Walidain"