17 Agustus tahun 45, itulah hari kemerdekaan kita....
Memasuki bulan Agustus, bapakku selalu sibuk mbenerin pager. Dari nebang pohon bambu, mBelah bambu, ngirati bambu muda buat talinya. Diakhiri dengan mencari batu gamping. Mencairkan batu gamping inilah yang aku tunggu tunggu. Letupan letupan air bereaksi dengan air ini sungguh amazing. Seperti air mendidih dan bau kapur itu hhhmmm...segar. setelah larut semua lalu mulailah nglabur pager. Diiringi suara sayup gamelan reog yang sedag latihan. Muka cemong, baju celana putih semua. Bikin tulis tulisan di jalan.
Aktivitas ini dilakukan oleh hampir semua warga ndesaku menjelang perayaan kemerdekaan RI. Bersih bersih kampung, ngecat pagar, latihan reog. Tak kalah sibuk para pemuda. Mereka semnagat menyiapkan pentas seni dan karnaval. Gerak dan lagu sampai ketoprak. Menyipakan kostum perawat sampai membuat alat suntik raksasa. Pertandingan olah raga antar desa seperti sepak bola, bulu tangkis, kasti, volly diadakan. Permusuhan sesaat terjadi meski esok harinya ngarit bareng lagi, sudah lupa kejadian kemarin. Bendera dan umbul umbul dipasang di sepanjang jalan dan disudut sudut desa.
Tanggal 16 agustus, sore hari diadakan karnaval berkeliling desa. Para pemuda berdandan berbagai profesi seperti polisi, tentara, dokter, perawat tidak lupa dengan berbagai aseorisnya.
Kemudian hari yang ditunggu datang yaitu tanggal 17 Agustus. Cek,,cek.. satu dua tiga..cek. terdengar suara petugas sound dari toa yg dipasang lapangan cubung oleh petugas dari kecamatan. Kemudaian iringan iringan peserta upacara dari semua unsur datang berdatangan lapangan. Murid dan guru SD inpres (sd ku), SD lendah 1, SD lendah 2, SD Tubin, SMP trimarto, SPG Kuthan dan SMA N Lendah (SMA ku). Pamong kelurahan, kecamatan, koramil dan polsek jadi satu di lapangan untuk upacara bendera. Kalau ada mas mas dan mbak mbak KKN maka mereka akan ikut upacara juga. Bau minyak kayu putih dan remason mulai tercium karena banyak peserta upacara yang jatuh pinsan. Mbok mbok bakul makanan berjejer dipinggir jalan. Ada pecel, arum manis, tempe benguk cilik cilik, geblek, growol dan kethak, baso. Bau makanan bercampur dengan bau lethong kebo dan sapi. hmm....
Selesai upacara benfera dilanjutkan dengan pertunjukan reog, oglek dan panjat pinang di halaman kantor kecamatan. Orang orang berduyun duyun ke sana. Jalanan macet oleh sepeda dan orang jalan. Halaman Rumah simbahku biasanya menjadi lahan parkir sepeda. Tangisan anak kecil minta dibelikan mainan. Kalau ibukku selalu bilang," Wingi bada kan wis tuku dolanan, saiki ora tuku. Mangan pecel wae kuwi!"
Selesai dari kecamatan rombongan reog berkeliling menari ke rumah rumah yang nanggap atau penyumbang dana pementasan dan atau pemilik gamelan. Mereka berkeliling sampai sore.
Malam harinya pentas seni dan pembagian hadiah juara lomba di pendopo kecamatan atau kelurahan berlangsung. Kembali orang orang memenuhi lokasi pertunjukan. Pemuda pemudi berdandan dan wangi. Acara biasanya ditutup dengan pentas ketoprak.
Tanggal 17 agustus adalah hari pestanya masyarakat. Melupakan sejenak beban kehidupan. Yang ngarit libur, suket/damen sudah di stok jauh hari, gabah tidak di pepe, sawah tidak ditiliki. Semua bergembira memperingati hari kemerdekaan Indonesia...
MASIHKAH seperti itu nggak ya di ndesaku? Sungguh kangen sangat aku akan aktivitas aktivitas itu. Bergairah dan ikhlas. Bahagia adalah tujuannya.
MASIHKAH..?
Memasuki bulan Agustus, bapakku selalu sibuk mbenerin pager. Dari nebang pohon bambu, mBelah bambu, ngirati bambu muda buat talinya. Diakhiri dengan mencari batu gamping. Mencairkan batu gamping inilah yang aku tunggu tunggu. Letupan letupan air bereaksi dengan air ini sungguh amazing. Seperti air mendidih dan bau kapur itu hhhmmm...segar. setelah larut semua lalu mulailah nglabur pager. Diiringi suara sayup gamelan reog yang sedag latihan. Muka cemong, baju celana putih semua. Bikin tulis tulisan di jalan.
Aktivitas ini dilakukan oleh hampir semua warga ndesaku menjelang perayaan kemerdekaan RI. Bersih bersih kampung, ngecat pagar, latihan reog. Tak kalah sibuk para pemuda. Mereka semnagat menyiapkan pentas seni dan karnaval. Gerak dan lagu sampai ketoprak. Menyipakan kostum perawat sampai membuat alat suntik raksasa. Pertandingan olah raga antar desa seperti sepak bola, bulu tangkis, kasti, volly diadakan. Permusuhan sesaat terjadi meski esok harinya ngarit bareng lagi, sudah lupa kejadian kemarin. Bendera dan umbul umbul dipasang di sepanjang jalan dan disudut sudut desa.
Tanggal 16 agustus, sore hari diadakan karnaval berkeliling desa. Para pemuda berdandan berbagai profesi seperti polisi, tentara, dokter, perawat tidak lupa dengan berbagai aseorisnya.
Kemudian hari yang ditunggu datang yaitu tanggal 17 Agustus. Cek,,cek.. satu dua tiga..cek. terdengar suara petugas sound dari toa yg dipasang lapangan cubung oleh petugas dari kecamatan. Kemudaian iringan iringan peserta upacara dari semua unsur datang berdatangan lapangan. Murid dan guru SD inpres (sd ku), SD lendah 1, SD lendah 2, SD Tubin, SMP trimarto, SPG Kuthan dan SMA N Lendah (SMA ku). Pamong kelurahan, kecamatan, koramil dan polsek jadi satu di lapangan untuk upacara bendera. Kalau ada mas mas dan mbak mbak KKN maka mereka akan ikut upacara juga. Bau minyak kayu putih dan remason mulai tercium karena banyak peserta upacara yang jatuh pinsan. Mbok mbok bakul makanan berjejer dipinggir jalan. Ada pecel, arum manis, tempe benguk cilik cilik, geblek, growol dan kethak, baso. Bau makanan bercampur dengan bau lethong kebo dan sapi. hmm....
Selesai upacara benfera dilanjutkan dengan pertunjukan reog, oglek dan panjat pinang di halaman kantor kecamatan. Orang orang berduyun duyun ke sana. Jalanan macet oleh sepeda dan orang jalan. Halaman Rumah simbahku biasanya menjadi lahan parkir sepeda. Tangisan anak kecil minta dibelikan mainan. Kalau ibukku selalu bilang," Wingi bada kan wis tuku dolanan, saiki ora tuku. Mangan pecel wae kuwi!"
Selesai dari kecamatan rombongan reog berkeliling menari ke rumah rumah yang nanggap atau penyumbang dana pementasan dan atau pemilik gamelan. Mereka berkeliling sampai sore.
Malam harinya pentas seni dan pembagian hadiah juara lomba di pendopo kecamatan atau kelurahan berlangsung. Kembali orang orang memenuhi lokasi pertunjukan. Pemuda pemudi berdandan dan wangi. Acara biasanya ditutup dengan pentas ketoprak.
Tanggal 17 agustus adalah hari pestanya masyarakat. Melupakan sejenak beban kehidupan. Yang ngarit libur, suket/damen sudah di stok jauh hari, gabah tidak di pepe, sawah tidak ditiliki. Semua bergembira memperingati hari kemerdekaan Indonesia...
MASIHKAH seperti itu nggak ya di ndesaku? Sungguh kangen sangat aku akan aktivitas aktivitas itu. Bergairah dan ikhlas. Bahagia adalah tujuannya.
MASIHKAH..?
Posting Komentar untuk "Masihkah..?"