Rp 200,00 buat Plastik Kresek

Pemerintah membuat kebijakan yang pro lingkungan, yaitu tas plastik berbayar. Jadi kalau kita belanja di mini market dan atau supermarket akan dikenakan biaya tas plastik atau kresek sebesar Rp 200,00 per plastik. Coba kalau ibu ibu yang suka belanja sampai keranjang belanjanya penuh, butuh berapa plastik kresek? Bisa 10 kresek. Jika dikali 200 maka akan ketemu nilai 2000  rupiah. Jika dalam sebulan si Ibu belanja 10 kali maka dia akan mengeluarkan uang untuk kresek 2000 x 10 sama dengan 20000/bulan. 240.000 setahun. Jika ada 5 ibu yang belanja dengan jumlah yang sama maka 5 x 240.000 = 1.200.000...woww, jumlah yang sangat fantastis hanya untuk plastik kresek.

Itu dari satu sudut.
Kita lihat dari sudut lingkungan hidup, 10 kresek kali 10 kali belanja sama dengan 100 buah kresek/bulan. 1200 buah kresek setahun. Itu satu ibu belanja. Jika dalam satu komplek ada 5 ibu yang sama belanjanya maka akan ada 60000 buah tas kresek dalam setahun.  Jumlah yang sangat fantaastis juga. Belum kemasan plastik belanjaan yang kualitasnya lebih baik. Jika semua plastik itu dibuang ke tanah, maka butuh waktu sekitar 1000 tahun untuk mengurai secara sempurna. Bahkan ada jenis plastik yang tidak bisa terurai dan terdekomposisi. Jika dihitung biaya pemulihan tanah yang tercemar oleh plastik biayannya akan sangat mahal. Dan jika dibakar maka udara akan terpapar racun.

Ini hanya ilustrasi tanpa wacana ilmiah, cuma mengulik ingatan masa sekolah.
Sungguh sungguh  luar biasa dampak dari plastik ini. Maka wajar jika pemerintah sangat consern pada masalah pencemaran plastik ini. Kebijakan plastik berbayar hanyalah salah satu cara agar kita tidak terlalu berlebihan dalam menggunkan plastik. Selebihnya adalah kepedulian dari masing masing individu. Bagaimana caranya agar bijaksana dalam menggunakan plastik.

Ngomongin plastik saya teringat teman kuliah dan teman berteater dulu. Dia bernama Anindito Tyas Wicaksono, berasal dari Purwokerto. Di tahun 1995 dia sudah berkampanye kepada teman temannya untuk membatasi penggunaan plastik. Seperti membawa tas belanjaan jika belanja, membawa gelas sendiri dari rumah untuk beli es teh atau es jeruk. Tentu saja banyak cemoohan, termasuk dari saya. Ribet amat, itu kalimat paling banyak dilontarkan teman temannya, termasuk saya. Tapi dia tetap konsisten, dan beberapa teman mengikuti jejaknya. Saya tidak..haahahha...huh...
Sayang saya sudah hilang kontak dengan teman saya ini, masikah ia istiqomah dengaan perilaku hijaunya itu.

Semenjak tas kresek berbayar di mini market sayapun mulai membawa tas belanja sendiri jika kebetulan belanja di mini market. Bukannnya mulai berperilaku hijau tapi lebih ke pelit untuk ngluarin duity 200 buat tas kresek..hahahhahhahha....Yaaa gak papa lah, dengan pelit beli tas kresek maka sampah plastik berkurang. hehehhhe....

Sebenarnya dilingkungan tempat tinggal saya perilaku hijau ini sudah mulai membudaya, yaitu dengan memisahkan sampah plastik. Masalahnya malah berada di petugas pengambil sampah. Sampah plastik yang sudah kita pisah, dicampur lagi dengan sampah ynag lain di dalam bak truk sampah. naahhhhhh.....lhooooo....
Tanya Kenapa???...



Posting Komentar untuk "Rp 200,00 buat Plastik Kresek"