Reality show Tolong

Program Televisi Tolong hadir lagi di SCTV.  Program Tolong adalah program tv bergenre reality show. Secara garis besar sinopsisnya adalah sebagai berikut, satu orang tallent dengan kesusahan tertentu meminta tolong kepada orang orang sekitar. Kita akan disuguhi berbagai macam reaksi dari orang orang yang dimintai tolong oleh tallent tersebut. Yang nanti pada akhirnya ada satu orang yang akan bersedia menolong si tellent, dan kemudian akan diberi imbalan oleh pembuat acara.


Program tersebut memang membawa bendera reality show. Saya sedikit banyak tahu dapur sebuah program tv "reality Show". Namun saya tidak akan membahas dapur. Saya lebih tertarik pada benang merah program ini, yaitu minta tolong dan orang yang menolong.

Minta tolong dengan kesulitan tertentu sering kita jumpai. Seperti episode yang saya tonton. Ada seorang ibu (tallent), menggendong balita, dengan tampang melas datang ke Jakarta mencari suaminya di Sunter. Turun dari bis kemudian menemui tukang ojek. Berbekal secarik kertas alamat yang tidak lengkap ibu itu bertanya ke tukang ojek. Tukang ojek kemudian menunjukan jalur angkot/bis yang bisa membawa ke Sunter. Namun si Ibu minta TOLONG untuk diantar karena tidak punya ongkos. Dengan alasan jauh, dan tentu nggak ada ongkosnya, tukang ojek tidak mau mengantar. Kemudian si Ibu menemui petugas halte Trans Jakarta. Dengan alasan sedang tugas petugas trans Jakarta tidak mau mengantar si Ibu ke Sunter. Si ibu kemudian berpindah setting di stasiun kota. Meminta tolong ke beberapa orang yang lalulang di stasiun kota. Tak satupun yang mau mengantar si Ibu. Akhirnya si Ibu ke penjual kopi keliling, seorang ibu dengan anaknya. Ibu Penjual kopi keliling ini rela berhenti jualan, memulangkan dagangannya, kemudian mengantar si Ibu (tallent) ke sunter. Dengan naik bis, mengongkosi si Ibu dan anaknya akhirnya sampai kle pasar Sunter. Setelah berterima kasih sudah diantar akhirnya si Ibu ( tallent) pergi. Kemudian datang seseorang memberi hdiah uang ke Penjual Kopi.

Kemudaian saya membayangkan, jika ini bukan sebuah program tv, dan saya berada disana sbagai orang yang dimintai tolong oleh si ibu, 90% saya akan menolak mengantar. Hpppppssss....berhenti nafas saya. Saya terkejut dengan keputusan yang saya ambil. Kemudian saya membuat pembelaan diri yang semasuk akal mungkin.
1. Yaaa...saya di situ sedang menunggu kereta,  tiket sudah ditangan, jadi tidak mungkin saya mengantar ibu (egois).
Ini Sama dengan petugas trans jakarta yang menolak mengantar dengan alasan sedang tugas. Ada dilema antara tugas dan kemanusiaan.
2. Ahhh....modus...ibu ini pasti cuma membuat modus untuk berbuat kejahatan (Krisis kepercayaan)
3. Saya akan mengantar ke kantor polisi terdekan agar diantar oleh polisi saja (sok perhatian)
4. Saya akan ngasih ongkos saja ke si Ibu (sok kaya).

Sebelum sampai ke scene Ibu penjual kopi saya berkata "jika di stasiun ini, ada orang yang mau mengantar si Ibu salut banget, dia orang HEBAT". Dan nyatanya TIDAK ADA. Saya berkesimpulan egoisme sudah menggerogoti orang orang. Berdalih tidak ada waktu, takut ketinggalan kereta, sedang tugas, rugi nganter gak dibayar dan lain lain.
Padahal semua itu bisa terpecahkan jika memang ada NIAT menolong. Ijin ke atasan, beli tiket lagi dan lain lain. Namun sebagian besar kita adalah orang yang EGOIS dan MATERIALISTIS. Padahal menurut teori, jika kita berbuat baik pasti akan berbalas kebaikan juga. Tetapi kita abai pada teori ini.
Yang kedua adalah kita sudah susah untuk percaya kepada orang. Apalagi dikeramaian. Banyak sekali berita yang menjadi referensi kita, bahwa banyak modus kejahatan di keramaian, salah satunya adalah pura pura minta tolong.

Jika situasi ini terjadi pada anda, apa yang anda lakukan? Jawab sejujur jujurnya, jika anda masih memiliki jiwa seperti si ibu pejual kopi, 4 jempol buat anda.
Sampai saat ini saya masih shock kalo ingat keputusan saya untuk menolak mengantar si Ibu. Sudah begitu jahatnya saya. Luntur kemana rasa kemanusiaan saya?..

Bagaimana dengan teman teman?

1 komentar untuk "Reality show Tolong"