Sampaikan Usiaku ke Bulan Ramadlan

Pandemi yang tak berkesudahan mau tak mau membuat kita takut. Takut jika umur kita tidak sampai ke bulan penuh berkah dan penuh ampunan yaitu bulan ramadan. Sangat kemungkinan kita terpapar. Memang, Terpapar bukan berarti tamat. Namun keganasan virus ini benar-benar membuat ciut nyali. Tahun lalu, ketika awal pandemi, saya pribadi hanya mendengar yang terpapar covid-19 adalah orang-orang di lingkaran yang jauh. Kenalpun tidak. Namun sekarang orang orang di lingkaran terdekatpun terjangkit. Kalau dulu sempat berpikiran virus ini tidak ada, rekayasa dan lain lain namun sekarang pikiran itu berubah 180°. Mulai dari tetangga, teman kantor, teman main dan terkahir adalah keluarga. Satu persatu terpapar covid. Yang menyedihkan adalah ketika keluarga dekat yang terpapar, dan harus meninggalkan kami. Saya jadi semakin bisa merasakan kesedihan mereka yg lebih dulu ditinggal. Nggak bisa merawat ketika sakit bahkan sampai meninggalnya. 

Pandemi ini benar benar ujian iman yang berat. Kesusahan ekonomi. Banyak cerita sukses dibalik pandemi, namun tak sedikit cerita miris bagi mereka yang lemah iman. Jalan pintas mereka lakukan dan penjara jadi ganjarannya. Dari kriminal remeh temeh seperti maling, sampai kriminal kelas kakap. Korupsi Bansos, skandal pajak, prostitusi dan lain sebgainya. Semua dilakukan untuk alasan perut. 

Perut adalah sumber petaka. Dari perut orang bisa rusak akidahnya. Dari perut negara bisa kalah perang. Dari perut partai bisa berkuasa. Dari perut juga pemimpin bisa dzolim ke rakyat. 

Yaa Allah, untuk itu sampaikanlah umurku ke bulan ramadan. Sampaikanlah umur orang tua kami, anak dan istri kami, saudara saudara kami, sahabat sahabat, dan pemimpin pemimpin kami ke bulan ramadhan. Agar kami merasakan nikmat berkah dan ampunanMu. 

Marhaban yaa Ramadlan. 

Posting Komentar untuk "Sampaikan Usiaku ke Bulan Ramadlan"